Travel Umroh Haji Plus PT. Fajar Berkah Ilahi Jakarta Paket Umroh Reguler, Paket Reguler Hemat Murah, Paket Umroh Plus Kairo, Paket Umroh Plus Turki, Paket Umroh Plus Kairo Dubai , Paket Umroh Plus Turki Dubai.

Travel Umroh Fajar Berkah Ilahi menyelenggarakan Paket Umroh reguler dan plus 2016-2017 , Umroh Promo, Umroh Group Pilihan Paket Umroh Murah , Paket Umroh Ramadhan, Umroh Plus Dubai, Umroh Plus Turki dan Umroh Plus Aqsho dengan layanan terbaik berbasis Tiket melayani Ibadah Haji Khusus dan Plus, Paket Haji Plus Kuota Depag, Haji Furodha dan Tersedia Paket Tour Wisata Muslim Keluarga yang Terjangkau, Paket Rombongan Wisata Muslim Tour Turki Dubai Kairo Al-Aqsha Yaman . Informasi Pendaftaran Umroh dengan pembimbing manasik berpengalaman .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الله , عَزَّ وَجَلَّ , يَقُولُ : إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ لَهُ جِسْمَهُ ، وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِي الْمَعِيشَةِ تَمْضِي عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لاَ يَفِدُ إِلَيَّ لَمَحْرُومٌ.
“Sesungguhnya Allah Azaa wa jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku sehatkan badannya, Aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan dia tidak menghadiri undangan-Ku (naik haji dan umroh , karena yang berhaji dan umroh disebut tamu Allah,) maka sungguh dia orang yang benar-benar terhalangi (dari kebaikan)


Selasa, September 4

Perjalanan Haji dan Umroh Gembala Sapi

Gembala sapi BerHaji 


Kisah Inspiratif , sumber :  Jurnal Haji 
Mata Saparuddin (40 tahun) berkaca-kaca. Air matanya menetes saat pertama kali melihat Kabah. Impian dan doa menunaikan haji dan umroh berkunjung ke Rumah Allah SWT akhirnya terkabul.
”Saya menangis. Bersyukur dan berbahagia karena bisa melihat Ka’bah,” ujar pria asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan itu berbalut kain ihram.
Bertahun-tahun lamanya, Saparuddin berjuang agar bisa menunaikan ibadah haji dan umroh. Ia bukanlah pekerja kantoran atau pegawai di sebuah perusahaan. Pria itu hanyalah seorang gembala sapi di kampung halamannya.
Tekadnya untuk memenuhi panggilan Allah SWT begitu kuat. Tak heran, jika Saparuddin menjadi satu di antara 1,5 miliar muslim di muka bumi yang terpilih untuk berkunjung ke Baitullah.
”Saya memelihara sapi milik orang lain,” tutur Saparuddin. Ia mengaku menyisihkan uang hasil keringatnya setiap bulan di bank. ”Setiap ada uang sisa, saya tabungkan agar bisa naik haji,” kata ayah satu anak ini.
Saparuddin mengaku tak pernah mengenyam pendidikan. Bahkan, duduk di bangku sekolah dasar (SD) pun tak pernah. ”Saya lahir dalam keadaan yatim. Orang tua saya dulu tak bisa menyekolahkan saya,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Saparuddin berkerja sebagai kuli. Ketekunannya berbuah kepercayaan. Orang kaya di kampungnya menitipkan sapinya untuk diternak oleh Saparuddin.
Dengan sistem bagi hasil, Saparuddin bisa mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai putrinya kuliah di Bulukumba. ”Ada sisa uang Rp 1 juta, saya tabungkan untuk haji,” katanya.
Uniknya, orang-orang kaya di sekitar Sapruddin malah belum ada yang menunaikan rukun haji dan umroh. ”Banyak orang yang kaya di kampung saya, tapi mereka tak naik haji,” tuturnya sembari tersenyum.
Tahun ini, Saparuddin menunaikan haji bersama 185 jamaah dari Bantaeng. Ia memilih berhaji ifrad, bukan tammatu. Karenanya, ia harus mengenakan pakaian ihram hingga puncak haji berakhir.
”Ada 50 orang dari Bantaeng yang berhaji ifrad,” katanya. Dengan berhaji ifrad, maka Saparuddin terbebas membayar dam, berupa seekor kambing. Namun, selama mengenakan kain ihram, ada sejumlah larangan yang harus dipatuhi Saparuddin dan kawan-kawannya itu.
Ia mengaku berangkat ke Tanah Suci tak bersama istri. ”Kalau istri saya sedang menabung juga. Mudah-mudahan bisa naik haji juga,” ucapnya. Saparuddin mengaku telah berdoa di depan Kabah agar istri dan anaknya bisa memenuhi panggilan Allah SWT.
Meski tak bersama istrinya, Sapruddin berhaji bersama beberapa saudaranya. ”Saya datang bersama om dan tante,”tuturnya. Saudara-saudaranya itu berkerja sebagai petani.
Dia sungguh beruntung. Betapa tidak. Untuk menunaikan haji, warga Kabupaten Bantaeng harus menungu selama 15 tahun. Daftar tunggu menjadi panjang karena jumlah muslim yang ingin berkunjung ke Baitullah semakin banyak. Namun, jika Allah sudah memanggilnya, seorang gembala sapi pun bisa berhaji.

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More